I Love You :)
Archive for 2010
Let's Twist, Lick and Drunk
Someday in my day when I feel down. When dizzy cause a thing that you have done. Sometimes I laugh, sometimes I cry, sometimes I feel so fun like right now.
Look in your back and believe it was mine. An alcohol in a bottle of wine. Let’s twist the trunk, let’s lick the lip, let’s drunk together in that Bar.
A bottle to warm up, two bottles to grow up. I know it is forbidden to do but I need it for life cause I need life right now.
When people said to me I’m drunk, they thought i must be out my mind.
When people said to me I’m drunk, I broke the rules and broke this line.
Sometimes I feel, sometimes I fall, sometimes I feel this life unreal.
Untitled.
Ketika relung hati tak mampu menunjukkan sinarnya
Ketika itu juga sang mentari bersembunyi ke balik peraduannya
Kerika mata hati tak sanggup berbicara
Ketika itu juga dunia menutup matanya
Dunia tidak pernah sepi oleh sinar
Dunia tidak pernah berhenti bersinar
Dalam gelap mentari hanya mampu tertidur
Dalam gelap juga ia menarik sinar-sinar yang terulur
Malam masih merindukan pagi
Seperti kelam merindukan hati
Harapan Baru, Semangat Baru.
KRS Semester depan, 1 mata kuliah non-skrip dan 1 mata kuliah reguler.
Target hidup mati, taun depan harus lulus. Amin.
Merdeka? Coba Pikir Lagi.
Yakin kita sudah merdeka? Untuk sebagian orang mungkin mereka menjawab dengan lantang. Tapi tidak untuk sebagian lagi. Mereka masih terjebak di antara jurang kemiskinan, pengangguran, kelaparan dan lain sebagainya.
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik. Merdeka bukan hanya kenikmatan materi untuk sebagian orang. Coba pahami lebih jauh.
Saya menolak keras kalau ada yang bilang bangsa ini sudah merdeka. Dan saya juga menolak keras kalau ada yang berteriak-teriak merdeka. Mereka itu gak tau arti merdeka secara luas. Sayang sekali untuk mereka-mereka yang belum paham hal ini.
Kemiskinan masih banyak kok. Coba lihat di perempatan-perempatan lampu merah, masih banyak yang menengadahkan tangannya meminta-minta kepada pengguna jalan yang lewat. Apa dia itu merdeka?
Pengangguran juga demikian. Berpuluh-puluh ribu sarjana menganggur karena kesempatan kerja di Indonesia masih sangat sulit. Perbandingan mahasiswa yang lulus setiap tahunnya tidak sebanding dengan persentase peluang kerja yang diciptakan pemerintah. Mereka nganggus lantas tidak punya penghasilan dan akibatnya ya miskin. Apa ini merdeka?
Coba lihat saudara-saudara kira di daerah perbatasan. Taraf hidup mereka sangat jauh dari standart taraf hidup normal yang ada pada umumnya. Rumah mereka masih dari bilik-bilik dan kesempatan memperoleh pendidikan menjadi sangat sulit karena sulitnya juga memperoleh guru. Bisa dibayangkan, guru tersedia hanya sehari dalam satu bulan. Tidak heran karena hal ini mereka lantas memilih menjadi warga negara tetangga. Tidak usah disebut lah negara itu. Apa ini juga sudah merdeka?
Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berada di ujung timur (Papua)? Sama halnya dengan masyarakat di perbatasan, taraf hidup mereka jauh di bawah normal. Barang pangan menjadi barang yang mahal. Akibatnya busung lapar menyerang mereka. Merdekakah mereka?
Saya pikir bangsa ini sangat jauh dari kata "merdeka" itu sendiri. Ya pemimpinnya tidak ada yang peka sama keadaan masyarakatnya. Mereka lebih memilih berlomba-lomba memperbanyak kekayaan untuk sanak saudara dan kerabatnya sendiri.
Jadi tolonglah pahami arti merdeka lebih dalam lagi. Sekali lagi, merdeka bukan hanya merdeka dari penjajahan fisik. Justru sekarang banyak penjajah-penjajah tak terlihat berupa non-fisik; kemiskinan, kelaparan, pengangguran dan sebagainya. Ini pelajaran untuk kita jadian acuan untuk rasa syukur kita sekaligus menunjukkan kepekaan dan kepeduliah terhadap saudara-saudara kita di luar sana. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki, minimal memperbaiki diri sendiri dan berbuat untuk orang lain.
NB: Foto-foto diperoleh dari google.
Yogyakarta, Tempat Ke-2 Yang Saya Cintai.
Yogyakarta, tempat ke-dua setelah Pulau Bali yang saya cintai. Berada di bagian tengah dari Pulau Jawa, tepatnya di pesisir selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Hujan dan kabut mengiringi perjalanan kami
3 Juli kemarin saya berkunjung ke sana lagi. Setelah terakhir saya ke sana sekitar tahun 2008. Berangkat dari Jakarta dengan Kereta Api Taksaka I sekitar Pukul 08.45 WIB dengan 2 orang teman saya, yaitu Bimo dan Shasya. Tiba di sana sekitar Pukul 18.00 WIB, perjalanan telat sekitar 1 jam dari yang seharusnya.
Monumen Serangan Umum 1 Maret
Perempatan Alun-alun Utara
Tidak ada yang banyak berubah dari kota itu. Mungkin agak sedikit padat. Atau mungkin karena waktu itu bertepatan dengan Muktamar salah satu Organisasi Islam terbesar. Entahlah. Yang jelas, parkiran di Malioboro tetap sama seperti 2 tahun lalu, tetap "Full Pressed Parking". Motor berdesak-desakkan berjajar di sebelah kiri jalan, di depan emperan toko-toko, hotel dan mall. Sementara di sebelah kanan berjajar para penjaja cindera mata khas Yogyakarta.
Kunci Motor Honda Astrea '93
Sesaknya parkiran Malioboro tidak membuat kecintaan saya terhadap kota ini berkurang. Kenapa? Karena sesak-nya tidak menghilangkan sikap ramah dan toleran juru parkirnya. Dalam keadaan yang sangat sempit mereka tetap ramah mengeluarkan motor-motor sang pengunjung. Kota ini benar-benar menawarkan berjuta keramahan. Mungkin yang tidak ramah hanyalah para pengamen pendatang luar kota yang tidak berbudaya. Sangat berbeda dengan Jakarta, dibalik semakin sesaknya kota, justru kebengisan semakin tumbuh.
Sempat Tersesat dan Menemukan Gedung Kosong Sebesar Ini
Selanjutnya, faktor ke-dua yang membuat saya jatuh cinta adalah keteraturan lalu-lintasnya. Sama halnya dengan Bali lalu-lintas di sini teratur. Para pengendara sepeda motor dengan tertib berhenti di belakang garis. Tidak ada pengendara yang ingin "mengalahkan" sesama pengendara lainnya di jalan. Jauh jika dibandingkan dengan Jakarta. Sangat jauh.
Berkunjung ke Universitas Islam Indonesia
Saya berada di sana selama 1 minggu. Menginap di sebuah rumah eyang teman di daerah Taman Siswa dengan keluarga yang ramah dan masih memiliki Budaya Jawa yang kuat, maklum keluarga itu masih ada unsur Darah Biru-nya. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari keluarga itu, tentang sebuah kasih sayang dalam keluarga yang erat di setiap generasinya.
Pantai Parang Tritis
Kaliurang, Tamansari dan Pantai Parah Tritis sempat saya singgahi bersama teman-teman saya. Perjalanan ke Pantai Parang Tritis menurut saya yang paling berkesan. Semakin menjauhi pusat kota, jalanan menjadi semakin sepi, ditambah lagi jalan yang lurus dengan persawahan dan pohon-pohon di sebelah kiri dan kanan.
Lesehan di Alun-alun Kidul (Selatan)
Wedang Ronde
Tepat tanggal 10 Juli saya kembali ke Jakarta. Kembali menggunakan Kereta Api Taksaka Malam yang berangkat Pukul 08.00 WIB dari Stasiun Tugu. Ada perasaan berat ketika saya meninggalkan kota itu. Itu artinya saya harus menjauh dari keramahan dan keteraturan. Pertanyaan yang mucul selanjutnya adalah "kapan saya bisa ke sini lagi?."
Waroeng Steak (Menu Paling Mahal: Rp. 27.500)
Lesehan Malam Terakhir di Malioboro
Ya, Yogyakarta sukses membuat saya jatuh cinta.
NB: Foto-foto lain di sini