Perjalanan ke Kabupaten Bandung Barat dilakukan dalam rangka mencari data ke kantor kecamatan dan kabupaten untuk tugas non-skrip kami. Kami mendapat tugas untuk 4 kecamatan; Cisarua, Cihampelas, Parongpong dan Lembang. Perjalanan dilakukan secara pulang-pergi setiap minggunya. Bahkan ada yang seminggu 3x PP Jakarta-Bandung Barat-Jakarta, demi sebuah karya tulis akhir (non-skrip) dari kampus kami tercinta, Universitas Trisakti.
Di Tol Cikampek, menuju Bandung Barat. Kami melihat truk bertuliskan "SID". Iseng, hanya untuk bahan tertawa saja waktu itu.
Di jalan saat kami menuju Kantor Kecamatan Parongpong. Jalan menuju ke sana waktu itu agak rusak.
Kalau tidak salah, ini perjalanan menuju mencari jalan awal/pulang.
Melintasi jembatan, menuju Kantor Kecamatan Cihampelas.
Menuju Kantor Kecamatan Cihampelas.
Saya dan Yudhi, di kantin Kantor Kabupaten Bandung Barat. Menunggu datangnya pesanan makan siang kami. (Foto diambil secara diam-diam oleh teman saya juga, Bimo)
Ini Bimo sedang dikerjai (pintu mobil kami kunci saat dia masih berada di luar mobil), saat kami semua akan kembali menuju Jakarta setelah beristirahat dan makan di rest area Cikampek.
Sebuah perjalanan yang tidak terlalu melelahkan dan penuh dengan kenangan bersama. Terima kasih untuk teman-teman saya; Yudhi, Bimo, Widi dan Nia. Kita adalah tim yang hebat.
Archive for 11/01/2011 - 12/01/2011
1st Anniversary
Menemanimu mengunjungi Perpustakaan Museum Bayt Al-Quran dan Perpustakaan Museum Purna Bhakti Pertiwi.
Malamnya, kamu membuatkan secangkir kopi.
Happy Anniversary ya, semoga sela-sela jemari ini bisa terus saling mengisi.
(10/11/10 - 10/11/11)
Potret Pembangunan (Oleh WS Rendra)
Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum.
Kita melihat kabur pribadi orang, karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus, karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja?
Inilah gambaran rata-rata pemuda tamatan SLA, pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan. Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan, dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan, serta pengetahuan akan kelakuan manusia, sebagai kelompok atau sebagai pribadi, tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya bisa berkuasa, persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa? Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan, menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan, lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan,wajah berdarah akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter, dianggap sebagai orang terpelajar, tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela, ia diam tidak bicara, kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum dianggap sebagi bendera-bendera upacara, sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi dianggap bunga plastik, sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput, kita memukul dan mencakar ke arah udara.
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.
-Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi, oleh WS Rendra.